5 Fasilitas Wisata yang Ramah Difabel

Sebagai ruang publik, destinasi wisata memang harus ‘ramah’ pada teman-teman difabel sehingga mereka juga mendapat kemudahan seperti pengunjung lain. Tempat wisata ramah difabel artinya tempat yang areanya bisa dengan mudah diakses oleh penyandang disabilitas secara mandiri.

Kamu pernah melihat garis kuning dengan permukaan menonjol di trotoar, kan? Itulah salah satu contoh fasilitas ramah penyandang disabilitas, terutama tunanetra. Sebab, jalur tersebut menjadi petunjuk agar mereka tidak salah jalan. Lalu, apa saja contoh yang harus ada di area wisata?

5 Fasilitas Ramah Difabel Wajib di Destinasi Wisata  

Berikut, 5 contoh fasilitas di tempat wisata yang akan memudahkan para teman difabel:

  • Jalur Ramp

Bagi penyandang disabilitas, kehadiran jalur ramp penting banget. Jalur ini dibuat landai dengan kemiringan tertentu yang memudahkan akses antar gedung.

Dengan adanya jalur ramp, para difabel yang memakai kursi roda bisa dengan mudah berpindah dari lantai bawah ke lantai atas, gedung A ke gedung B atau sebaliknya. Jadi, mereka gak perlu melewati anak tangga yang pasti bakal susah diakses.

Selain itu, jalur ramp juga harus dibuat lebar agar pergerakan difabel gak terbatas. Jalur yang lebar juga memberikan ruang yang lebih untuk orang yang mendampingi mereka selama berkeliling.

Desain ideal yang disarankan untuk jalur ramp khusus difabel yaitu:

  • Kemiringan maksimal 70
  • Panjang maksimal 9 meter
  • Kalau kemiringan di bawah 70 maka jalur sebaiknya lebih panjang dan harus dilengkapi dengan bordes setiap 900 cm untuk tempat istirahat;
  • Permukaan jalur harus dibuat kasar agar tidak licin saat musim hujan

  • Area Parkir Khusus

Selanjutnya, area parkir juga harus disesuaikan dengan kebutuhan para difabel. Lokasi wisata ramah penyandang disabilitas wajib membuat area parkir yang lebih lapang untuk memberikan kebebasan bagi difabel.

Sebab, mereka pasti membawa alat bantu seperti kursi roda atau jenis alat bantu jalan lain yang butuh tempat saat dikeluarkan. Kalau lahannya sempit, pasti jarak antar kendaraan akan mepet sehingga menyulitkan para difabel.

Area parkir yang ideal untuk penyandang disabilitas juga harus berjarak maksimal 60 meter ke pintu masuk wisata. Jarak yang dekat tentu akan meringankan mereka, terutama yang menggunakan kaki palsu atau alat bantu jalan seperti kruk dan walker.

Memasang tanda lahan parkir khusus difabel juga wajib dilakukan. Tujuannya untuk mempercepat mereka dalam menemukan area parkir dan mencegah wisatawan non-difabel memanfaatkan area tersebut.

  • Area Loket Tiket yang Lebar 

Perlukah loket tiket dibuat ramah penyandang disabilitas? Tentu saja. Biasanya terpasang pembatas di area loket untuk merapikan antrian sehingga terasa lebih sempit.

Hal itu gak cocok kalau diterapkan untuk loket khusus difabel. Sebab, pembatas akan mempersempit ruang gerak mereka, terutama yang memakai kursi roda atau walker. Terlebih, jika pembatasnya dibuat berkelok-kelok, pasti tambah menyulitkan.

Solusinya, buatlah area loket tanpa pembatas yang luasnya cukup memadai. Jangan juga dibuat berundak, tapi datar saja. Justru kalau permukaannya dibuat agak kasar atau dilengkapi bentuk lingkaran kecil yang menonjol akan lebih baik.

Tandai juga loket yang khusus untuk difabel agar mereka tidak salah antri. Selain itu, jarak antara loket ke pintu masuk jangan dibuat terlalu jauh.

  • Toilet Khusus Difabel

Tempat wisata perlu memiliki bangunan ramah difabel seperti toilet karena fungsinya jelas penting. Siapa sih yang bisa anteng berlibur tanpa butuh toilet, kan?

Toilet khusus difabel sudah ditentukan kriteria idealnya oleh Pemerintah, lo. Berikut detailnya:

  • Toilet wajib dilengkapi pintu geser yang berukuran 1,5 meter
  • Toilet harus memiliki rambu dengan sistem cetak timbul
  • Ruangan toilet harus dibuat lebih luas dibandingkan toilet untuk non-difabel
  • Lantai toilet tidak boleh licin
  • Ketinggian dari tempat duduk kloset mulai dari 45 cm sampai 50 meter, pokoknya harus sama dengan kursi roda
  • Toilet wajib dilengkapi tombol darurat dan pegangan rambat (handrail)
  • Penataan tempat tisu, wastafel dan shower harus gampang dijangkau oleh para difabel

  • Petugas Berbahasa Isyarat 

Fasilitas yang terakhir adalah menempatkan petugas yang bisa bahasa isyarat. Tujuannya agar mampu berkomunikasi dengan wisatawan yang tuli.

Jangan mengandalkan tulisan karena gak praktis sama sekali. Terlebih, kalau penyandang tuli butuh informasi yang detail. Petugas yang menguasai bahasa isyarat merupakan solusi terbaik.

Ingat, ya, teman-teman difabel punya hak yang sama untuk menikmati pesona tempat wisata. Semakin lengkap fasilitas khusus yang disediakan, mereka akan semakin betah dan enjoy menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayang maupun berwisata secara mandiri.