Strategi Pengendalian Kutu Terbang pada Gudang Beras

 

 

 

Kutu beras atau kutu terbang adalah hama yang yang sering menyerang beras pada gudang. Beras yang disimpan pada gudang beras juga sering ditemukan telur kutu beras yang tertinggal hingga beras dikemas jika tidak dilakukan pengendalian terhadap hama kutu dengan baik.

Beras yang ditumbuhi oleh kutu terbang akan memiliki kualitas yang lebih rendah daripada kondisinya semula dan hal ini akan merugikan para pemilik bisnis karena nilai jualnya menjadi turun. Berikut ini adalah strategi pengendalian yang dapat diterapkan untuk mengatasi kutu terbang pada gudang beras.

Ciri keberadaan kutu terbang

Ketika kutu terbang memasuki gudang beras, maka ada ciri-ciri yang dapat dideteksi yaitu munculnya kerusakan pada beras yang disimpan. Baik kutu maupun telur kutu beras sama-sama berpotensi menyebabkan kerusakan pada mutu beras yang disimpan pada gudang.

Kutu terbang merusak mutu beras yang disimpan dengan cara menggerogoti beras yang dimakannya. Beras yang mengalami kerusakan akibat digerogoti oleh kutu terbang akan menjadi berbentuk seperti butiran tepung.

Siklus hidup kutu terbang

Kutu terbang berjenis kelamin betina dapat menghasilkan 300-400 telur dalam sekali pembuahan. Telur kutu beras ini dapat bertahan selama 1 bulan pada kondisi hangat.

Kutu terbang dewasa dapat bertahan hidup sekitar 7-8 bulan dan beberapa lainnya hingga 2 tahun.

 

Telur kutu beras akan menjadi dewasa dalam waktu 18 hari dan menjadi pupa dalam waktu 6 hari. Siklus hidup dari kutu terbang sekitar 30-40 hari selama musim panas dan 123-148 hari selama musim dingin berdasarkan temperaturnya.

Pendekatan

Keberadaan telur kutu beras yang tidak disadari pada gudang beras akan berdampak pada kerugian yang besar, karena telur-telur tersebut jika dibiarkan dapat tumbuh menjadi kutu beras yang akan menyebar ke seluruh beras yang ada di gudang.

Pengendalian kutu terbang pada negara Amerika Serikat menerapkan pendekatan yang unik melalui 3 situasi yang berbeda sebagai berikut.

Situasi 1

Situasi dimana hama atau serangga yang menyerang beras pada gudang belum dikenali jenisnya. Hama atau serangga yang paling umum menyerang beras pada gudang yaitu kutu terbang.

Pada situasi 1 ini, seringkali keberadaan telur kutu beras juga belum terdeteksi karena biasanya kutu masih dalam keadaan baru memasuki area gudang beras.

Situasi 2

Situasi dimana mulai diketahui keberadaan kutu terbang, namun dalam kondisi ini telur kutu beras maupun kutu belum tersebar secara luas.

 

Situasi 3

Situasi dimana kutu terbang mulai berkembang biak meluas ke seluruh area gudang beras. Beberapa populasi dari kutu dan juga telur kutu beras memiliki kemungkinan mengalami resistensi akibat adanya penggunaan bahan kimia pada pestisida.

Strategi pengontrolan kutu terbang

Berikut ini adalah pengontrolan yang dapat dilakukan pada kutu terbang di gudang penyimpanan beras.

  • Membersihkan peralatan dan fasilitas yang ada di gudang beras secara teliti dan pastikan tidak ada telur kutu beras yang tertinggal.
  • Pengecekan terhadap beras yang diterima apakah terdapat kutu terbang atau serangga bawaan dari luar lainnya.
  • Melakukan pengecekan dan sanitasi terhadap semua beras yang diterima sebelum disimpan pada gudang
  • Jika, beras hanya disimpan selama 3 bulan atau kurang, maka beras dapat disimpan pada penyimpanan fasilitas yang bersih.
  • Lakukan fumigasi jangka pendek jika diperlukan untuk mengontrol kutu terbang
  • Penyimpanan terhadap beras harus dilakukan dalam waktu yang singkat agar tidak memicu kemunculan kutu ataupun serangga lainnya
  • Penyimpanan beras pada waktu yang lama harus menggunakan suhu yang rendah sehingga dapat menghambat pertumbuhan dari kutu terbang dan juga telur kutu beras yang berpotensi muncul pada suhu yang lebih tinggi